Partai Buruh Maluku Utara Sebut Banjir PT IWIP Merupakan Bencana Ekologis, Buruh Yang Paling Berdampak

- 18 September 2023, 22:35 WIB
Banjir PT IWIP
Banjir PT IWIP /Suara Halmahera /

SUARA HALMAHERA -Hujan yang mengguyur kawasan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT IWIP) pada Rabu 13 September 2023 lalu telah menyebabkan banjir bandang.

Berdasarkan pemantauan lapangan oleh tim Suara Halmahera, bahwa banjir tersebut membuat seluruh kawasan tergenang air.

Yang paling terdampak dari banjir bandang tersebut terutama dikawasan pabrik dan jalan nasional yang digunakan oleh warga.

Baca Juga: Harum Cengkeh di Tanah Tepeleo, Warga Berbondong-Bondong Panen

Seorang buruh yang tak mau dipublikasikan namanya saat diwawancara Suara Halmahera menyampaikan, bahwa mereka kehilangan waktu jam kerja, sebab tidak bisa masuk kerja.

“Buruh kehilangan waktu jam kerja, sebab tidak masuk kerja dan tidak ada jaminan dari perusahaan. Barang sepeda motor yang di parkiran rusak di timbun banjir, jalanan lintas tujuan buruh rusak dan becek,” katanya.

Buruh PT IWIP tersebut juga menuturkan , Saat banjir APD buruh pastinya basah dan masih dipaksa kerja oleh majikan, kesehatan bagi majikan tidak di utamakan.

“Saat APD buruh basah di badan, buruh meminta ijin potong jam kerja juga tidak diberikan, ada juga yang sakit, namun setiap buruh yang ke klinik sulit mendapatkan SKD. Sehingga buruh kerja dalam kondisi basah dan sakit,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang berbeda, Aslan Sarifuddin, ketua Exco Partai Buruh Halmahera Tengah, menyampaikan melalui WhAtssap pada Suara Halmahera. Bahwa di Kawasan Industri Nasional Teluk Weda, Kec. Weda Tengah Kab. Halmahera Tengah sering banjir meluap saat hujan deras. Kondisi ini sudah berulangkali serupa musiman, banjir juga terjadi lingkungan perkampungan warga, Dusun Lokulamo Desa Lelilef Waibulen, Lelilef Sawai dan Gemaf. Desa yang bertetangga langsung dengan industri raksasa ; PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park dan PT. Weda Bay Nikel.

“Kenapa banjir terus melanda kawasan industri dan perkampungan warga, karena terdapat Daerah Aliran Sungai (DAS) di kawasan industri dan Desa-desa setempat, misalnya sungai Kobe dan beberapa Sungai di Desa Gemaf. Sementara aktivitas pertambangan di areal Daerah Aliran Sungai, artinya sudah jelas terjadi banjir,” paparnya.

Ali Akbar Muhammad yang juga merupakan aktivis buruh Maluku Utara, mengatakan bahwa saat banjir kaum buruhlah yang paling berdampak.

“Mereka para buruhlah yang paling berdampak ketikan terjadi bencana ekologis seperti banjir. Mereka akan sakit, bahkan mati, kendaraan mereka rusak, bahkan tidak bisa masuk kerja dan upah mereka di potong. Apa yang dialami buruh saat bencana ekologi tidak ada itikad baik perusahaan untuk menanggung seluruh beban kerugian buruh, justru buruhlan yang harus menanggung seluruh beban tersebut,“ ungkapnya.

Berdasarkan informasi dari buruh PT IWIP, bahwa pada 14 September 2023 ada penemuan mayat di lokasi perusahaan. Dugaan mayat tersebut terseret oleh arus banjir. 

Pihak perusahaan ketika dihubungi oleh oleh Tim Suara Halmahera sampai saat ini belum memberikan keterangan.***

Editor: Firmansyah Usman


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah